Setoran awal sudah dibayar, nomor porsi sudah di tangan — tapi masih ada satu tahap besar yang sering luput dipersiapkan: pelunasan. Berikut cara menyiapkannya dengan tenang, tanpa membuat keuangan rumah tangga terguncang.
Apa Itu Dana Pelunasan dan Kapan Dibayar?
Saat mendaftar haji reguler, jemaah membayar setoran awal Rp25 juta untuk mendapatkan nomor porsi. Sisanya — selisih antara Bipih tahun keberangkatan dan setoran awal — dibayar saat masa pelunasan, yaitu beberapa bulan sebelum keberangkatan setelah ada pengumuman resmi dari pemerintah.
Sebagai gambaran, Bipih 2026 sebesar Rp54,19 juta. Artinya jemaah yang berangkat tahun ini perlu melunasi sekitar Rp29 juta — dan angka pelunasan ini baru diketahui pasti pada tahun keberangkatan, bukan saat mendaftar.
Prinsip Utamanya: Perlakukan Pelunasan Seperti Cicilan, Bukan Kejutan
Kunci agar pelunasan tidak mengguncang keuangan keluarga adalah mengubahnya dari "tagihan besar mendadak" menjadi "cicilan kecil yang sudah berjalan bertahun-tahun". Caranya:
- Mulai menabung pelunasan segera setelah dapat nomor porsi — bukan menunggu pengumuman. Dengan masa tunggu belasan hingga puluhan tahun, cicilan bulanannya bisa sangat ringan.
- Buat rekening terpisah khusus pelunasan, berbeda dari tabungan harian dan dana darurat, supaya tidak terpakai untuk kebutuhan lain.
- Gunakan estimasi konservatif — asumsikan angka pelunasan di masa depan lebih tinggi dari angka hari ini, karena Bipih cenderung naik jangka panjang.
- Otomatiskan — atur autodebet setiap tanggal gajian, sehingga menabung terjadi sebelum uangnya sempat terpakai.
Contoh Ilustrasi Sederhana
Misalkan Anda baru mendapat nomor porsi tahun ini dengan estimasi keberangkatan ±26 tahun lagi, dan mengasumsikan kebutuhan pelunasan di masa depan sekitar Rp60 juta (asumsi ilustratif yang konservatif):
| Mulai Menabung Pelunasan | Sisa Waktu | Ilustrasi Tabungan/Bulan |
|---|---|---|
| Segera setelah dapat porsi | ±26 tahun | ±Rp190 ribu |
| 10 tahun sebelum berangkat | 10 tahun | ±Rp500 ribu |
| 5 tahun sebelum berangkat | 5 tahun | ±Rp1 juta |
| Setelah surat pelunasan terbit | ±beberapa bulan | Puluhan juta sekaligus |
Angka bersifat ilustratif (tanpa memperhitungkan imbal hasil tabungan). Intinya jelas: baris pertama dan terakhir adalah dua dunia yang berbeda — padahal total uangnya sama.
Agar Tidak Mengganggu Pos Keuangan Lain
- Dahulukan dana darurat (idealnya 3–6 bulan pengeluaran) sebelum menambah porsi tabungan pelunasan — supaya kebutuhan mendadak tidak "meminjam" dari dana haji
- Jangan korbankan kebutuhan wajib seperti pendidikan anak atau cicilan produktif; tabungan pelunasan idealnya diambil dari penghasilan sisa, bukan menggeser kewajiban
- Hindari berutang konsumtif untuk pelunasan — berangkat haji dengan beban utang berbunga justru menambah tekanan finansial keluarga setelah pulang
- Libatkan pasangan dalam perencanaan agar prioritas keuangan keluarga sejalan dan tabungan tidak tarik-menarik dengan kebutuhan lain
- Tinjau ulang setiap tahun saat pemerintah mengumumkan Bipih terbaru — naikkan cicilan sedikit demi sedikit bila estimasi berubah
Jangan Lupakan Biaya di Luar Pelunasan
Pelunasan bukan pengeluaran terakhir. Siapkan juga pos untuk: perlengkapan pribadi, pemeriksaan kesehatan dan vaksinasi, uang saku selama di Tanah Suci, kebutuhan keluarga yang ditinggal, serta biaya tak terduga lainnya. Memasukkan pos-pos ini sejak awal membuat total kebutuhan lebih realistis.
Susun Rencana Pelunasan Anda Sekarang
Tim Safar Indah Berkah siap membantu menghitung kebutuhan pelunasan dan menyusun jadwal menabung yang pas dengan arus kas keluarga Anda.
